Talk No Talk

Standar

This might be a beginning but it’s been so bad now. I wasn’t so sure also whether she has that interest to me as i wasn’t sure about me myself since we’ve only chatted several times. Although i always start the conversation with a simple Hi and just end without good explanations. I’m just getting tired and i need “something new” to begin.

Bener-bener taik kucing! Akhir-akhir ini mungkin lebih dari 10 kali saya melihat Whats App dalam sehari dengan mata terfokus pada satu nama. Biasanya ngga demikian, intensitas saya pegang ponsel bisa dibilang minim, saya akan buka ponsel jika butuh telfon atau ada pesan atau email yang masuk saja. Ternyata, naksir seseorang itu membingungkan dan mengingatkan saya tentang diri sendiri. Baru sadar kalau ternyata ada beberapa sifat saya yang baru muncul belakangan ini. Dalam kasus tertentu seperti hal ini saya itu ternyata ngga pedean, terkadang sulit untuk menaikkan kepercayaan diri kalau tiba-tiba ngga pedean ini muncul. Saya juga kembali disadarkan kalau rasa pede itu ternyata sebanding dengan kualitas muka. (?)

Meski hanya ingin mengirimkan pesan sederhana “Hai, lagi apa?” diri ini masih kaku malu. Ketahuilah nona, jika ada seorang pria yang mengirimkan pesan “Selamat malam”, atau “hai lagi apa.” atau pesan sapaan klise basa basi lainnya itu berarti dibalik pesan tersebut ada pria yang dalam hatinya menahan malu dan gengsi, bukan menahan boker. Jika kamu ngga balas atau kamu balasnya sehari atau seminggu kemudian, itu berarti kamu udah traktir dia dengan makanan beracun tikus. Sekalipun jika kamu ngga suka, plis…. tegasin kalau kamu ngga suka biar pria itu mundur dan dengan cepat bisa handle feelingnya.

I’m still not sure now, but i always see things are going well. I hope so.

Apakah dia ingin ditanyai dan ingin diberi kabar ?. Seringkali saya mati-matian menahan debat batin hanya untuk mengirim pesan sebatas Hai. karena selalu berpikir saya akan terlihat seperti pria agresif meski bukan demikian. Baiknya, akal saya masih setia dengan logika sederhana bahwa kami masih dalam tahap berkenalan dan masih me reka-reka satu sama lain. Jadi, saya harus bisa mengingati diri sendiri bahwa awal perkenalan ngga bisa diartikan terlalu jauh tanpa ada pertanyaan dan pernyataan.

Mungkin kami sejauh ini (baginya) masih dalam tahap perkenalan sepintas saja, hingga ngga masalah jika ngga berkirim kabar seharian, semingguan, sebulanan. Dan meskipun pesan yang terkirim (akan) berujung tanpa balasan.

So, if you have a minute why don’t we just meet?

One Fine Day

Standar

Hey take a look!! It’s 14th November!!. Time is starting to seem to fly, ha?. Knowing that entering new age is a challenge. Keep in mind that new age is really old, but it isn’t really young either.

So, i know that now in my new age i’m going to have to really grow up and become a mature and responsible adult. I really really really understand that it’s not the physical aging anyway, but the psychological aging that really makes me feel older.

God, i just wish that i could enjoy every simple things that i did without complain anymore, because those simple things are what make my days meaningful.

Just say goodbye to the past and just be happy okay!! And as usual, say it to yourself; “Happy birthday, Duan!! Happy birthday, Duan!! Happy birthday, Duan!!.”

*22:27 dan masih duduk di bangku taman. Sedang melamunkan apa, Duan?? Apa??!!! Mau pelukan hangat dan ciuman?!? Jangan ngawur kamu!!!!.

Heiy, November yang Baru !

Standar

Heiy, Welcome 1st November !

Biasanya akan ada 3 moment yaitu di awal, tengah dan akhir November yang biasa saya ngerayain sendiri. Dalam hal ini menghibur diri, sangat berbaik-baik sama diri sendiri, lebih tepatnya manjain diri dengan makan makanan yang ngga tiap hari saya makan. Ya, cukup sendiri ngga usah ajak-ajak orang. Cukup spesialin diri sendiri aja untuk 3 momen berkesan dalam satu bulan November.

Malam ini, setelah kenyang makan. saya duduk di bangku taman kota. Menikmati malam liat ramainya lingkungan sekitar. Demi menghindari prasangka orang-orang, saya seringkali pura-pura sibuk dengan membawa earphone dan banyak snack biar ngga dikira galau melamun nunggu seseorang, karena pernah kejadian soalnya. Shit, that’s annoying when some people ngga respect nanya-nanya trus ikut numpang duduk di bangku saya dan ngoceh keras sama temen-temennya dan bikin sakit kuping. Jengkel untuk hal seperti ini, padahal niat nya saya buat nyendiri ngilangin jenuh eh malah kedatangan stress.

Ada kejadian tadi saat saya duduk-duduk santai tiba-tiba terdengar suara mendesah feminim di samping saya. Setelah menoleh, saya sebagai pemuda yang masih dikuasai hormon lonely ini jadi banyak banget komentar ngga penting yang otak saya pikirkan saat liat ini:

pengamen waria jepara, transgender singing beggar jepara,bencong jepara,pengamen bencong jepara, pengamen banci jepara,pengamen banci waria alun-alun jepara

A transgender singing beggar at public park

“Doeeeeeeeengggggg… makhluk apa ini! kekar banget bodi nya, …tangannya gede banget tapi ngondek. mana tatoan juga. Hadooohh itu di roknya kok nongol-nongol di tengah apaan….. TIDAAAAAAKKKKK…..”

Dan dia langsung nyanyi-nyanyi aja di deket saya, suaranyaaaa….. oh my…… blown away!! cetarrrr!!!! Dengan suara berat-berat kombinasi melengking…dan improvisasi di sana-sini… saya curiga kang banci ini implan vibrator di tenggorokan…vibranya bu…geter bener…ngalahin Princess Syahrini (?)

Jadi karena lagunya saya ngga bisa sing along, saya minta dia nyanyiin lagunya Kuntoaji – Terlalu lama sendiri. eh dia jawabnya ngelawak cekikikan kalau ngga tau lagunya, bisanya lagu dangdut gitu hihihi… ketawanya meringis genit sambil colek-colek saya. #njiirrrrrr. merinding saya !.

Setelah dibuai syahdunya suara Kang banci itu, overall….okay performance… ya, karena dia sukses menghibur hati saya meski lagunya ngga ear catchy dan tampangnya spooky. Jadi sebagai imbalan saya sawer uang 10 ribu. Aduh meringisnya dia girang banget kayak mau cium saya, tapi eittssss karena menjaga kesucian perjaka sholeh saya dengan cepat menghindari belaian tangannya saat nerima saweran. Kuatirnya ntar tangan saya dipegang terus langsung dipeluk cium. iyuuuuhhh…. bisa jatuh pamor imej lelaki sholeh saya hihi.

But actually he has really opened my eyes, karena kalau dipikir dia bener-bener berani nantang dunia. ngga bisa saya bayangin derita hati nya saat dimaki oleh orang-orang, diejek sana sini tapi dia tetep aja kokoh sama idealisme nya bahwa menjadi sosok yang feminim adalah kodrat nya meski dinilai salah. Sementara kita, masih aja ngeluh dengan hal-hal sepele. Malu rasanya. i hope you guys still care about people like him. jika ada yang ngamen kayak gitu sedekahin aja pakai uang lebihan, jangan recehan.

Tumben jadi wibawa gini?

Hahaa,, udahan aja deh random thoughts nya. Ah, ngga kepikiran kang banci ternyata masuk dalam spesial moment di pembukaan November saya hahaaa. Selamat merayakan November para klan scorpio !

PS: Setelah sekian lama betah sendiri, akhir-akhir ini saya sedang mencoba kenal dengan seseorang, tapi rasa trauma masih membelenggu. What to do??!!!

Hilangnya sebuah “Hai”

Standar

….Kemeja kusut, celana jeans, sepatu kets, lecek basah kehujanan. Pria itu mengetok pintu dan memasuki ruang. Di dalamnya sudah menunggu seorang wanita berparas teduh yang langsung menyapa nya, “hai”….

Bener kata orang, pertemuan pertama memang selalu berkesan. Saya bertemu D di sebuah ruangan untuk briefing dengan bos nya, membicarakan sebuah pekerjaan. Baru sekali waktu itu di 23 tahun hidup menjadi diri saya, disapa senyum oleh wanita manis anonim dan dibuatkan secangkir kopi panas setelah kehujanan adalah hal yang jarang terjadi dan patut dirayakan. Setali tiga uang dengan frekuensi komet halley menyambangi bumi, maka hal kayak gini hanya akan terjadi lagi di hidup saya 76 tahun lagi (mungkin). Ah, lebay lu. tapi Tuhan emang lagi baik aja waktu itu, ngasih kejadian itu walaupun frekuensinya serupa komet halley. jadi kalian ngga usah sirik.

Udah 2 tahun, tapi rasanya baru aja kemarin saya membalas hai mu dan tanya kabar, meski mentok di sesi pdkt. Ah, D,. saya ngga ngerti gimana cara mengakali perasaan ini. Sama seperti si Nona Asing itu yang juga udah nikah duluan, yang saya pikir kamu bentar lagi akan seperti mpok-mpok gendut, rambutnya dikonde, pakai baju kebaya dan kain sarung terus ngunyah-ngunyah daun sirih.. oh… it’s just…God… i can’t explain it that you become a Mistress now..!

Entahlah, menulisi ini di malam dingin abis hujan dan,, sepiiiiiiii sekali…. emang udah biasanya sepi kan?, ah., tapi tapi akhir-akhir ini lebih sepi dari biasa biasanya. No no no one’s beside me… sampai suara jangkrik pun terasa banget suaranya,,.. kriuk..kriuk…kriuk… itu suara jangkrik atau suara hati remuk..?!

Anyhow, kalau dipikir-pikir mentok di sesi pdkt adalah hal bodoh kalau menurut saya sih. tapi gimana lagi, orangnya udah defensive banget ya kita mundur teratur namun tetap gagah. kan kita pria! ya, kan ya?! ya dong!.

Cih, pdkt. i tell you a secret, i always try to save moment biar ngga jaim dengan coba basa-basi melucu biar ngga garing… Btw, emang penting banget ya jadi lucu? Hmmm..,,mungkin buat orang yang tampan, kaya dan pintar ngga penting. Tapi buat orang yang ngga punya kelebihan kayak saya… itu satu-satunya cara untuk ngebuat orang mau deket dan ngga malu jaim sama saya… kalaupun gagal membuka topik buat basa-basi melucu biasanya berdo’a aja kepada Tuhan biar ada topik yang bakal mancing buat bisa ngobrol sambil bersikap cool, calm, confidence. the point is… saya ingin membuat orang yang bersama saya nyaman… gitu aja.. so..don’t put anymore doubt on me yach… i’m good on taking care of people kok, kecuali banci.

Mungkin saya perlu berubah dalam hal ini, but should i?. Mereka bilang perubahan itu perlu, karena perubahan lumrah terjadi. Tapi berubahnya harus menjadi lebih baik. Tapi satu yang ngga bisa berubah dari saya, i am not good at making topics to talk with girl !.

Ah, makin ngga jelas aja saya nulis hal beginian, efek dingin di bulan Oktober yang udah masuk musim penghujan, musimnya orang-orang saling pelukan merajuk manja karena hawa dingin! Sekarang saya jadi ngerti alasan para dukun itu ngasih tanggal-tanggal sakral untuk orang yang mau nikahan adalah pas mau masuk musim hujan dingin-dingin gini. i know it now i know it!

Jadi, sebenarnya mau ngomong apa sih ?!

Engga… cuma mau menghibur diri sendiri aja nih. Udah lah ngga perlu dengerin kata-kata orang lain kalau ujung-ujungnya cuma bikin kita down. inget ya, masih ada banyak hal yang harus kita lakuin selain menye-menye galau-galau ngga jelas kayak blog ini. Sekarang ini kalau galau nya ngga menghasilkan sesuatu yang menguntungkan, berarti bukan galau yang baik. Okey…Udah bukan umurnya gloomy-gloomy ngga penting. Pandangan fokus aja ke depan dan raih cita-cita, got it?!!.

Jadi, adakah yang lebih membahagiakan dari bertemu tanpa perlu mencarimu di luar sana, Nona Sleeping Beauty?

I thought I thought of every possibility
I just haven’t met “you” yet.

Mmmmm ….

I might have to wait longer.

 

 

*Jah! tetep jatohnya galau lagi! See? nyemangatin diri sendiri emang susssaaah!!!

Banyak yang Nikah, Kamu Juga?

Standar

….Me and some guys from school
Had a band and we tried real hard
Jimmy quit, Jody got married
I should’ve known we’d never get far,..
Oh, when I look back now
That summer seemed to last forever
And if I had the choice
Yeah, I’d always wanna be there
Those were the best days of my life…
Summer Of ’69 – Bryan Adams

Hmm… the tittle is sooo annoying.. Okay, i don’t expect something better in this blog… seperti pertama kali bikin blog ini dan terakhir kali login kesini, maunya cuma tulis sesuatu yang menuhin otak! random, anything! but in fact i expect i can write the important and information things in it…. But you know me,, i’ve no qualification for that…otak cetek sih… so, again, this post is sooo much Garing actually,… Garing with capital “G”. biarin blog ngga ada konten bagus karena ngga ada smart writing… maunya bahas kegalauan aja..(..tetep..).

07:45. Si Bryan Adams lagi nyanyiin Summer of 69 di playlist saya pagi ini, penggalan liriknya bikin dada kedat-kedut karena dia bilang “merit-meritan” segala. Karena bicara merit, di bulan September ini banyak sekali yang melangsungkan pernikahan. Mulai dari kerabat, tetangga, teman, temannya teman hingga teman yang ngaku-ngaku teman…..ngasih undangan!.

Hari Sabtu ini, ada 5 undangan nikah dari orang-orang yang ngaku-ngaku kenal sama saya, cih…haha. Keterlaluan, padahal teman yang bener-bener saya kenal hanya 2 orang aja, 1 teman lama masa SMA dan 1 teman spesial. sisanya, teman entah berantah yang saya lupa kenalnya dimana. Tapi, anyway saya tetep respect sama mereka karena telah mengundang saya, terima kasih sekali karena sudah ngasih reminder buat saya.

A reminder that means i’m growing older,
A reminder that means i’m too long being single pendekar,
A reminder that means just don’t be insecure,
A reminder that means God where is she?.

Okay, kita bicara hal klasik kali ini. Persoalan hadir di pesta nikahannya teman, posisi kamu adalah single…sendirian yang nanti akan berbaur dengan teman-teman yang rata-rata sudah berpasangan. Tebakannya adalah selalu akan ada orang bodoh norak yang nantinya bertanya meski hanya berbasa-basi, “kamu kapan nikahnya?”, “Jangan kelamaan sendiri, cepetan cari jodohnya”, “Jangan kejar karir melulu nanti nyesel keburu tua”, “jangan pilih-pilih kalo cari jodoh”.

Teman tetep teman, tapi teman yang berbasa-basi dan ngasih advices seperti itu menurut saya adalah teman bodoh norak. Saya ngga marah kok, hanya saya rasa terlalu kekanak-kanakan menanyakan hal seperti itu. at least, bertanya kabar dan saling mendoakan adalah hal yang lebih baik. So, don’t push anyone to get marry soon, let them enjoy and wait their time, cause God will provide them the best person when the time comes. Menikah memang bentuk ibadah yang bisa menyempurnakan agama, tapi jangan buru-buru nikah hanya sekedar ikut-ikutan teman, ini nikah bro bukan ganti baju ngga cocok kembalikan, jadi ngga smart banget tanya lu kapan nikah? kalau kita nikah pastilah kabar-kabarin elu, ngga usah rempong tanya-tanya. karena kan yang jelas ngga bisa ditentuin kapan waktunya, bisa cepet bisa juga lama, kalau soal waktu dan jodoh kan terserah sama Tuhan. Dia akan adil untuk save the best for last. Percaya deh! : D

Anyway, bicara pesta pernikahan pasti yang digosipin disana adalah mas kawin yang diserahkan apa, jadinya identik dengan modal nikahnya berapa. Mau sedikit ngulas dikit karena akhir-akhir ini di kota saya ada sebuah cerita tentang lamaran pernikahan yang menyita perhatian. Seorang pria melamar pengantin wanita nya dengan menyerahkan mas kawin motor Yamaha Nmax, heboh lagi ada juga yang membawa lamaran berupa mobil Honda Jazz. Banyak yang nyinyir ngoceh alah palingan kreditan, alah palingan nanti istrinya ikut nyicil bareng, alah paling bentar lagi diambil dealer, alah palingan bentar lagi digadein buat modal warung nasi kucing bla bla bla bla… Dengan canggihnya teknologi pasti jadi viral banget lah apalagi mengingat pandangan publik adalah hal yang mempengaruhi standard hidup. Ya, pasti banyak ocehan. Karena biasanya kan seserahan mas kawin standard berupa seperangkat alat sholat dan emas berapa gram doang. Nah kalau di tempat saya dengan lamaran model begini, pastilah dikupas habis gosipnya, ibu-ibu rempong akan awet sekali gosipinnya berhari-hari. Eh, tau nggak anaknya si ibu Tuti kemarin dapet pegawai BRI lamarannya seperangkat alat sholat sama 10 onta arab bergigi emas. alah jeung itu sih nggak seberapaaaa, anaknya bu Eko malah dilamar sama seperangkat alat sholat plus jadwal berangkat haji tahun 2050. and then bla bla bla bla whatever.

Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya dari mana pandangan publik itu berawal?
Siapa yang menentukan suatu standard hidup di dunia?
Apakah mas kawin berupa barang mewah bisa menjamin bahagianya pernikahan?
Kenapa ganteng-cantik bagi banyak orang itu harus berupa fisik?
Apakah orang yang sukses itu selalu kaya raya?
Kalau keluarga dengan rumah beratap jerami beralas tanah artinya mereka tidak bahagia?
Apakah makanan yang mewah itu sejenis sushi, pizza, pasta, dan semua makanan khas luar negeri?
Atau kalau belum punya smartphone artinya orang itu ngga gaul?

Bagaimana mungkin manusia itu sendiri yang membuat standard dan batasan-batasannya sendiri? Yang saya tahu pasti, manusia ngga akan pernah bahagia jika terus mengikuti keinginan dunia, keinginan tetangga, keinginan pacar, keinginan teman, keinginan berita televisi, keinginan majalah fashion dll, tapi ngga mengetahui keinginan kita sendiri itu apa. Kalau kita terus hidup berdasarkan standardisasi dunia, maka kita akan berakhir menyedihkan.

Tapi….. kalau lu wanita yang dapet lamaran semacam mobil dan barang-barang mewah pasti lu nyengir-nyengir kuda, kan? ngaku aja girang banget pasti. Alah, udah ketebak lu. : p *peace*

Menurut saya, selamanya nikah itu bisa murah, untuk mereka yang fokus pada esensi, bukan gengsi. tul nggak? tul dong… ayo yang setuju angkat kaki keatas.

*Okay, sampai di sini smart writing mulai nampak keliatan. bagus… blog ini akhirnya mengangkat isu sosial, hihi.

Untuk Diam….

Standar

Akhir-akhir ini saya, butuh menjaga diri agar tetap utuh dalam definisi this is real me!. Karena untuk saat ini saya butuh membuang banyak pikiran negatif dari kepala untuk menjadi tetap waras. Butuh membuang apa yang membelenggu benak yang hanya menimbulkan prasangka dan sekedar kira-kira. Saya merasa jika sesuatu dibuang adalah agar ngga perlu untuk ditampilkan. Karena apa yang dibuang adalah apa yang ngga diinginkan ada. Karena itu, apa yang dibuang ngga seharusnya dijadikan suatu ukuran.

Malam ini saya memutuskan untuk membuang pikiran semrawut dengan memasuki sebuah kedai kopi, bukan….bukan untuk mengobrak-abrik kedai kopi nya. Saya hanya duduk tenang, tempat saya duduk menikmati kopi ini termasuk salah satu tempat favorit “cari angin” saya di kota ini. Tempatnya kecil sederhana dengan hanya beberapa meja namun cozy, bisa memberi semilir angin jika memilih duduk di luar ruang.. di weekday dan weekend juga tidak ramai pengunjung, karena mindset saya ngga akan masuk ke suatu tempat jika terlalu banyak orang. Tempatnya berada di pinggir jalan protokol kota, cukup nyaman untuk menyendiri bermain laptop… dan kebetulan kedai kopi tersebut milik seorang teman, jadi dia sudah banyak tau memperlakukan seorang penyendiri. Sebenarnya ada beberapa tempat di luar sana yang membuat saya betah berlama-lama menghabiskan malam. Ada satu tempat kedai kopi dekat rumah yang sering saya kunjungi namun sekarang sudah tutup karena bangkrut, mungkin karena terlalu sepi pengunjung dan pemiliknya sudah bosan lihat muka saya yang tiap hari ke sana. Jadi, kunjungan saya sifatnya adalah tergantung mood, saya akan mengunjungi tempatnya karena saya yakin sebuah suasana lingkungan bisa memberikan output-effect yang berbeda.blackbean coffee jepara,kedai kopi di jepara,pria galau di kedai kopi,minum kopi di kedai kopi sendiri,pria galau minum kopi,kafe di jepara,cafe di jepara,nongkrong cafe jepara

Seringkali, apalagi akhir-akhir ini saya suka sibuk berbisik pada diri untuk ngga goyah dan berlari, tetap tenang dan tegas dalam menghadapi situasi sulit. Selain masalah kerjaan, ada pikiran yang sedikit mengganjal dalam hati, setelah sekian lama, baru dengar kabar…, kabar seorang wanita yang akan melangsungkan pernikahannya di waktu dekat ini.

2 tahun lalu, saya pernah mengenal seorang wanita. Ngga sulit bagi seseorang untuk bisa jatuh cinta kepadanya. Dia baik hati dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi dengan menghargai dirinya dengan sangat tinggi. Wanita ini sangat cerdas dan memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai meskipun ia harus mengalami jatuh bangun berkali-kali. Dia pandai terhadap detail dan angka-angka hingga saya menganggapnya sosok yang serius ngga suka drama dan bermanja. Terlihat parasnya yang teduh terkesan sangat peduli dengan sesama. Saya selalu tertarik pada apapun tentangnya. Saya hanya ngga pernah bertanya langsung, ngga pernah mengusiknya dengan pertanyaan ataupun ajakan yang saya pikir dia ngga suka. Jadi saya menunggu agar dia yang berkisah. ya, agar berkisah dulu mengenai cincin yang melingkari jari manisnya padahal dalam riwayatnya adalah not in relationship.

Sejak awal kenal, kami bertemu di sebuah ruangan presentasi karena saya dan bos nya terikat kontrak untuk sebuah proyek. Setelah saat itu kita jadi sering jumpa dan intens berinteraksi. Ketika tiap saya ke kantornya untuk menghadap bos nya, meski sekedar berbasa-basi saya rajin menyapanya secara langsung maupun via aplikasi messenger. Sekedar untuk mengucapkan selamat pagi, mengingatkan dirinya agar ngga lupa menyantap sarapan, agar ngga lupa makan siang, agar ngga lupa makan malam, mengingatkan dirinya untuk beristirahat cukup agar ngga mudah sakit, hingga pada suatu hari saya menyadari dia ngga pernah lagi membalas sapaan saya, saya tetap berpikiran positif bahwa dia sedang menjalani kehidupan yang luar biasa sibuk. Suatu hari dia mengatakan beberapa hal kepada saya,

“Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa melakukan semua ini.?”

“Entahlah, aku ngga tau alasannya.”

“Maaf. Kamu ga lagi pedekate sama aku, kan?”

“Untuk saat ini, ya. Kenapa? Apa kamu ngga nyaman?”

“Jujur, aku ga nyaman dengan semua ini.”

“Okay, kamu cukup kasih tau aku seperti ini, dan aku akan hentikan semuanya.”

“Maaf jika kamu kecewa menghadapi komunikasi satu arah seperti ini.”

“Tenang aja. never mind, i can handle my feeling.”

Dalam ponsel pribadi, saya bukan orang yang rajin menyimpan isi sms/chat yang masuk inbox apalagi yang telah saya kirim untuk dibaca berulang-ulang untuk menghindari perasaan berangan-angan, selebihnya isi pesan yang berkesan akan otomatis teringat dalam otak. It was 2 years ago, she told me like that. you know it’s hurt enough. i was surprised and kept silence for a while. Tapi seenggaknya dari apa yang kami perbincangkan tersebut saya menyadari satu hal, yaitu “kelegaan”. Ya, lega, untuk memilih jujur agar ngga terlalu memberatkan hati, lega, agar ngga selamanya diam dan hanya memilih apa yang diyakini. Lega, agar ngga menyimpan apa yang ngga perlu didengar. Lega, agar ngga terus menjaga hati dalam diam.

Jadi, saya hanya bisa mendoakan yang sederhana. Semoga bahagia untuk apa yang ada, bahagia karena mereka yang berarti bahagia adalah hanya yang terbaik, selalu… Semoga Tuhan memberkahimu, D.