Monthly Archives: September 2016

Banyak yang Nikah, Kamu Juga?

Standar

….Me and some guys from school
Had a band and we tried real hard
Jimmy quit, Jody got married
I should’ve known we’d never get far,..
Oh, when I look back now
That summer seemed to last forever
And if I had the choice
Yeah, I’d always wanna be there
Those were the best days of my life…
Summer Of ’69 – Bryan Adams

Hmm… the tittle is sooo annoying.. Okay, i don’t expect something better in this blog… seperti pertama kali bikin blog ini dan terakhir kali login kesini, maunya cuma tulis sesuatu yang menuhin otak! random, anything! but in fact i expect i can write the important and information things in it…. But you know me,, i’ve no qualification for that…otak cetek sih… so, again, this post is sooo much Garing actually,… Garing with capital “G”. biarin blog ngga ada konten bagus karena ngga ada smart writing… maunya bahas kegalauan aja..(..tetep..).

07:45. Si Bryan Adams lagi nyanyiin Summer of 69 di playlist saya pagi ini, penggalan liriknya bikin dada kedat-kedut karena dia bilang “merit-meritan” segala. Karena bicara merit, di bulan September ini banyak sekali yang melangsungkan pernikahan. Mulai dari kerabat, tetangga, teman, temannya teman hingga teman yang ngaku-ngaku teman…..ngasih undangan!.

Hari Sabtu ini, ada 5 undangan nikah dari orang-orang yang ngaku-ngaku kenal sama saya, cih…haha. Keterlaluan, padahal teman yang bener-bener saya kenal hanya 2 orang aja, 1 teman lama masa SMA dan 1 teman spesial. sisanya, teman entah berantah yang saya lupa kenalnya dimana. Tapi, anyway saya tetep respect sama mereka karena telah mengundang saya, terima kasih sekali karena sudah ngasih reminder buat saya.

A reminder that means i’m growing older,
A reminder that means i’m too long being single pendekar,
A reminder that means just don’t be insecure,
A reminder that means God where is she?.

Okay, kita bicara hal klasik kali ini. Persoalan hadir di pesta nikahannya teman, posisi kamu adalah single…sendirian yang nanti akan berbaur dengan teman-teman yang rata-rata sudah berpasangan. Tebakannya adalah selalu akan ada orang bodoh norak yang nantinya bertanya meski hanya berbasa-basi, “kamu kapan nikahnya?”, “Jangan kelamaan sendiri, cepetan cari jodohnya”, “Jangan kejar karir melulu nanti nyesel keburu tua”, “jangan pilih-pilih kalo cari jodoh”.

Teman tetep teman, tapi teman yang berbasa-basi dan ngasih advices seperti itu menurut saya adalah teman bodoh norak. Saya ngga marah kok, hanya saya rasa terlalu kekanak-kanakan menanyakan hal seperti itu. at least, bertanya kabar dan saling mendoakan adalah hal yang lebih baik. So, don’t push anyone to get marry soon, let them enjoy and wait their time, cause God will provide them the best person when the time comes. Menikah memang bentuk ibadah yang bisa menyempurnakan agama, tapi jangan buru-buru nikah hanya sekedar ikut-ikutan teman, ini nikah bro bukan ganti baju ngga cocok kembalikan, jadi ngga smart banget tanya lu kapan nikah? kalau kita nikah pastilah kabar-kabarin elu, ngga usah rempong tanya-tanya. karena kan yang jelas ngga bisa ditentuin kapan waktunya, bisa cepet bisa juga lama, kalau soal waktu dan jodoh kan terserah sama Tuhan. Dia akan adil untuk save the best for last. Percaya deh! : D

Anyway, bicara pesta pernikahan pasti yang digosipin disana adalah mas kawin yang diserahkan apa, jadinya identik dengan modal nikahnya berapa. Mau sedikit ngulas dikit karena akhir-akhir ini di kota saya ada sebuah cerita tentang lamaran pernikahan yang menyita perhatian. Seorang pria melamar pengantin wanita nya dengan menyerahkan mas kawin motor Yamaha Nmax, heboh lagi ada juga yang membawa lamaran berupa mobil Honda Jazz. Banyak yang nyinyir ngoceh alah palingan kreditan, alah palingan nanti istrinya ikut nyicil bareng, alah paling bentar lagi diambil dealer, alah palingan bentar lagi digadein buat modal warung nasi kucing bla bla bla bla… Dengan canggihnya teknologi pasti jadi viral banget lah apalagi mengingat pandangan publik adalah hal yang mempengaruhi standard hidup. Ya, pasti banyak ocehan. Karena biasanya kan seserahan mas kawin standard berupa seperangkat alat sholat dan emas berapa gram doang. Nah kalau di tempat saya dengan lamaran model begini, pastilah dikupas habis gosipnya, ibu-ibu rempong akan awet sekali gosipinnya berhari-hari. Eh, tau nggak anaknya si ibu Tuti kemarin dapet pegawai BRI lamarannya seperangkat alat sholat sama 10 onta arab bergigi emas. alah jeung itu sih nggak seberapaaaa, anaknya bu Eko malah dilamar sama seperangkat alat sholat plus jadwal berangkat haji tahun 2050. and then bla bla bla bla whatever.

Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya dari mana pandangan publik itu berawal?
Siapa yang menentukan suatu standard hidup di dunia?
Apakah mas kawin berupa barang mewah bisa menjamin bahagianya pernikahan?
Kenapa ganteng-cantik bagi banyak orang itu harus berupa fisik?
Apakah orang yang sukses itu selalu kaya raya?
Kalau keluarga dengan rumah beratap jerami beralas tanah artinya mereka tidak bahagia?
Apakah makanan yang mewah itu sejenis sushi, pizza, pasta, dan semua makanan khas luar negeri?
Atau kalau belum punya smartphone artinya orang itu ngga gaul?

Bagaimana mungkin manusia itu sendiri yang membuat standard dan batasan-batasannya sendiri? Yang saya tahu pasti, manusia ngga akan pernah bahagia jika terus mengikuti keinginan dunia, keinginan tetangga, keinginan pacar, keinginan teman, keinginan berita televisi, keinginan majalah fashion dll, tapi ngga mengetahui keinginan kita sendiri itu apa. Kalau kita terus hidup berdasarkan standardisasi dunia, maka kita akan berakhir menyedihkan.

Tapi….. kalau lu wanita yang dapet lamaran semacam mobil dan barang-barang mewah pasti lu nyengir-nyengir kuda, kan? ngaku aja girang banget pasti. Alah, udah ketebak lu. : p *peace*

Menurut saya, selamanya nikah itu bisa murah, untuk mereka yang fokus pada esensi, bukan gengsi. tul nggak? tul dong… ayo yang setuju angkat kaki keatas.

*Okay, sampai di sini smart writing mulai nampak keliatan. bagus… blog ini akhirnya mengangkat isu sosial, hihi.

Untuk Diam….

Standar

Akhir-akhir ini saya, butuh menjaga diri agar tetap utuh dalam definisi this is real me!. Karena untuk saat ini saya butuh membuang banyak pikiran negatif dari kepala untuk menjadi tetap waras. Butuh membuang apa yang membelenggu benak yang hanya menimbulkan prasangka dan sekedar kira-kira. Saya merasa jika sesuatu dibuang adalah agar ngga perlu untuk ditampilkan. Karena apa yang dibuang adalah apa yang ngga diinginkan ada. Karena itu, apa yang dibuang ngga seharusnya dijadikan suatu ukuran.

Malam ini saya memutuskan untuk membuang pikiran semrawut dengan memasuki sebuah kedai kopi, bukan….bukan untuk mengobrak-abrik kedai kopi nya. Saya hanya duduk tenang, tempat saya duduk menikmati kopi ini termasuk salah satu tempat favorit “cari angin” saya di kota ini. Tempatnya kecil sederhana dengan hanya beberapa meja namun cozy, bisa memberi semilir angin jika memilih duduk di luar ruang.. di weekday dan weekend juga tidak ramai pengunjung, karena mindset saya ngga akan masuk ke suatu tempat jika terlalu banyak orang. Tempatnya berada di pinggir jalan protokol kota, cukup nyaman untuk menyendiri bermain laptop… dan kebetulan kedai kopi tersebut milik seorang teman, jadi dia sudah banyak tau memperlakukan seorang penyendiri. Sebenarnya ada beberapa tempat di luar sana yang membuat saya betah berlama-lama menghabiskan malam. Ada satu tempat kedai kopi dekat rumah yang sering saya kunjungi namun sekarang sudah tutup karena bangkrut, mungkin karena terlalu sepi pengunjung dan pemiliknya sudah bosan lihat muka saya yang tiap hari ke sana. Jadi, kunjungan saya sifatnya adalah tergantung mood, saya akan mengunjungi tempatnya karena saya yakin sebuah suasana lingkungan bisa memberikan output-effect yang berbeda.blackbean coffee jepara,kedai kopi di jepara,pria galau di kedai kopi,minum kopi di kedai kopi sendiri,pria galau minum kopi,kafe di jepara,cafe di jepara,nongkrong cafe jepara

Seringkali, apalagi akhir-akhir ini saya suka sibuk berbisik pada diri untuk ngga goyah dan berlari, tetap tenang dan tegas dalam menghadapi situasi sulit. Selain masalah kerjaan, ada pikiran yang sedikit mengganjal dalam hati, setelah sekian lama, baru dengar kabar…, kabar seorang wanita yang akan melangsungkan pernikahannya di waktu dekat ini.

2 tahun lalu, saya pernah mengenal seorang wanita. Ngga sulit bagi seseorang untuk bisa jatuh cinta kepadanya. Dia baik hati dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi dengan menghargai dirinya dengan sangat tinggi. Wanita ini sangat cerdas dan memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai meskipun ia harus mengalami jatuh bangun berkali-kali. Dia pandai terhadap detail dan angka-angka hingga saya menganggapnya sosok yang serius ngga suka drama dan bermanja. Terlihat parasnya yang teduh terkesan sangat peduli dengan sesama. Saya selalu tertarik pada apapun tentangnya. Saya hanya ngga pernah bertanya langsung, ngga pernah mengusiknya dengan pertanyaan ataupun ajakan yang saya pikir dia ngga suka. Jadi saya menunggu agar dia yang berkisah. ya, agar berkisah dulu mengenai cincin yang melingkari jari manisnya padahal dalam riwayatnya adalah not in relationship.

Sejak awal kenal, kami bertemu di sebuah ruangan presentasi karena saya dan bos nya terikat kontrak untuk sebuah proyek. Setelah saat itu kita jadi sering jumpa dan intens berinteraksi. Ketika tiap saya ke kantornya untuk menghadap bos nya, meski sekedar berbasa-basi saya rajin menyapanya secara langsung maupun via aplikasi messenger. Sekedar untuk mengucapkan selamat pagi, mengingatkan dirinya agar ngga lupa menyantap sarapan, agar ngga lupa makan siang, agar ngga lupa makan malam, mengingatkan dirinya untuk beristirahat cukup agar ngga mudah sakit, hingga pada suatu hari saya menyadari dia ngga pernah lagi membalas sapaan saya, saya tetap berpikiran positif bahwa dia sedang menjalani kehidupan yang luar biasa sibuk. Suatu hari dia mengatakan beberapa hal kepada saya,

“Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa melakukan semua ini.?”

“Entahlah, aku ngga tau alasannya.”

“Maaf. Kamu ga lagi pedekate sama aku, kan?”

“Untuk saat ini, ya. Kenapa? Apa kamu ngga nyaman?”

“Jujur, aku ga nyaman dengan semua ini.”

“Okay, kamu cukup kasih tau aku seperti ini, dan aku akan hentikan semuanya.”

“Maaf jika kamu kecewa menghadapi komunikasi satu arah seperti ini.”

“Tenang aja. never mind, i can handle my feeling.”

Dalam ponsel pribadi, saya bukan orang yang rajin menyimpan isi sms/chat yang masuk inbox apalagi yang telah saya kirim untuk dibaca berulang-ulang untuk menghindari perasaan berangan-angan, selebihnya isi pesan yang berkesan akan otomatis teringat dalam otak. It was 2 years ago, she told me like that. you know it’s hurt enough. i was surprised and kept silence for a while. Tapi seenggaknya dari apa yang kami perbincangkan tersebut saya menyadari satu hal, yaitu “kelegaan”. Ya, lega, untuk memilih jujur agar ngga terlalu memberatkan hati, lega, agar ngga selamanya diam dan hanya memilih apa yang diyakini. Lega, agar ngga menyimpan apa yang ngga perlu didengar. Lega, agar ngga terus menjaga hati dalam diam.

Jadi, saya hanya bisa mendoakan yang sederhana. Semoga bahagia untuk apa yang ada, bahagia karena mereka yang berarti bahagia adalah hanya yang terbaik, selalu… Semoga Tuhan memberkahimu, D.